Haruskah?
Terkadang diri ini seringkali terheran-heran, mengapa selalu mempertanyakan "kenapa?" disetiap hal-hal yang menurutku patut dipertanyakan. Namun kali ini aku benar-benar heran, mengapa manusia cenderung mengkelompokkan diri dalam suatu kelompok? maksudku untuk apa? contohnya saja di sekitarku ada saja seseorang yang secara tidak langsung mencoba untuk membentuk beberapa kelompok-kelompok seperti berbadan besar, kurus, kulit berwarna putih, sawo matang, golongan menengah atas, golongan menengah bawah, cantik/ganteng, tidak menarik, dan lain sebagainya.
Mungkin beberapa orang ada yang kurang paham, tapi maksudku adalah in the end, we're a human right? so, why we're trying to find a differences? why we're trying to ruin a things? ex, hurting someone. Dengan cara mencari-cari perbedaan pada diri seseorang dan mengkelompokkannya kedalam kelompok berbadan besar dan kurus, kulit putih dan sawo matang, apakah tidak menyakiti perasaan seseorang? Atas dasar apa manusia dapat mengkelompokkan sesama manusia lainnya ke dalam suatu kelompok yang dirasa hanya melihatnya berdasarkan rupa? Jujur, aku tidak mengerti. Karena apakah dia memilih untuk memiliki badan yang ia miliki saat ini? Tidak, tetapi Tuhan yang memilihnya. Tentu dengan alasan tertentu, dan sudah pasti itulah yang terlihat sempurna untuk dia.
Aku adalah tipe orang yang suka menganalisis perilaku seseorang. Sering kali aku dibuat takjub dengan melihat perilaku orang lain, dan selalu berpikir bahwa manusia bisa seberagam itu. Dan karena terlalu sering menganalisis perilaku orang lain (orang baru, supaya aku bisa tahu bagaimana seharusnya aku berperilaku di depan orang tersebut hehe), aku jadi paham bahwa sebaik-baiknya manusia, pasti ia memiliki sifat egois--meskipun sedikit. Apakah mungkin orang mengelompokkan orang lain karena memang sifat dasarnya manusia egois, karena ia merasa bahwa ia yang paling diatas segalanya dibandingkan orang yang ia kelompokkan tersebut? Heuh, rasanya sulit untuk menemukan jawaban yang pasti.
Kemudian aku berpikir, haruskah sesama manusia mengelompokkan manusia lainnya kedalam suatu kelompok? mengapa kita tidak hidup secara damai dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan yang ada? Andai kelompok-kelompok tersebut musnah, akankah manusia bisa saling bersikap ramah dan saling peduli? Ah, rasanya aku ingin hidup seperti itu.
12.02.2019
16.04
Mungkin beberapa orang ada yang kurang paham, tapi maksudku adalah in the end, we're a human right? so, why we're trying to find a differences? why we're trying to ruin a things? ex, hurting someone. Dengan cara mencari-cari perbedaan pada diri seseorang dan mengkelompokkannya kedalam kelompok berbadan besar dan kurus, kulit putih dan sawo matang, apakah tidak menyakiti perasaan seseorang? Atas dasar apa manusia dapat mengkelompokkan sesama manusia lainnya ke dalam suatu kelompok yang dirasa hanya melihatnya berdasarkan rupa? Jujur, aku tidak mengerti. Karena apakah dia memilih untuk memiliki badan yang ia miliki saat ini? Tidak, tetapi Tuhan yang memilihnya. Tentu dengan alasan tertentu, dan sudah pasti itulah yang terlihat sempurna untuk dia.
Aku adalah tipe orang yang suka menganalisis perilaku seseorang. Sering kali aku dibuat takjub dengan melihat perilaku orang lain, dan selalu berpikir bahwa manusia bisa seberagam itu. Dan karena terlalu sering menganalisis perilaku orang lain (orang baru, supaya aku bisa tahu bagaimana seharusnya aku berperilaku di depan orang tersebut hehe), aku jadi paham bahwa sebaik-baiknya manusia, pasti ia memiliki sifat egois--meskipun sedikit. Apakah mungkin orang mengelompokkan orang lain karena memang sifat dasarnya manusia egois, karena ia merasa bahwa ia yang paling diatas segalanya dibandingkan orang yang ia kelompokkan tersebut? Heuh, rasanya sulit untuk menemukan jawaban yang pasti.
Kemudian aku berpikir, haruskah sesama manusia mengelompokkan manusia lainnya kedalam suatu kelompok? mengapa kita tidak hidup secara damai dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan yang ada? Andai kelompok-kelompok tersebut musnah, akankah manusia bisa saling bersikap ramah dan saling peduli? Ah, rasanya aku ingin hidup seperti itu.
12.02.2019
16.04
Comments
Post a Comment